Setelah melaksanakan kegiatan cek kesehatan gratis pada Minggu, 9 Agustus 2026, mahasiswa KKN Kelompok 32 Dharma Pancakarsa Universitas Al Ghifari melanjutkan rangkaian program kesehatan melalui kegiatan Gerakan Sadar Obat (GSO) pada Selasa, 11 Agustus 2026. Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengunjungi rumah warga satu per satu (door to door) di RW 10 Desa Cibodas, Kecamatan Lembang.
Program Gerakan Sadar Obat menjadi tindak lanjut dari hasil pemeriksaan kesehatan sebelumnya. Dari kegiatan cek kesehatan gratis, mahasiswa dan tim kesehatan menemukan bahwa sebagian besar warga, terutama lansia, rutin mengonsumsi obat untuk hipertensi, asam urat, penyakit jantung, diabetes, dan gangguan lambung. Karena itu, edukasi mengenai penggunaan obat yang benar menjadi langkah penting agar obat dapat digunakan secara aman dan sesuai dengan kondisi masing-masing warga.
Edukasi Langsung ke Rumah Warga
Dalam setiap kunjungan, mahasiswa memberikan edukasi menggunakan leaflet yang telah disiapkan. Materi yang disampaikan meliputi penggunaan antibiotik yang benar, cara mencegah resistensi antibiotik, serta konsep DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang obat dengan benar).
Mahasiswa juga menjelaskan cara menyimpan obat yang baik, termasuk lama penyimpanan obat setelah kemasan dibuka, seperti obat sirup, salep, krim, dan obat tetes. Edukasi ini diberikan agar warga tidak lagi menggunakan obat yang sudah tidak layak pakai atau menyimpan obat dalam kondisi yang dapat menurunkan kualitasnya.
Metode door to door dipilih karena membuat komunikasi dengan warga menjadi lebih dekat. Warga bisa langsung menunjukkan obat-obatan yang mereka simpan di rumah, menceritakan kebiasaan mereka dalam menggunakan obat, dan bertanya mengenai hal-hal yang selama ini masih membingungkan.
Pemeriksaan Penyimpanan Obat di Rumah
Selain memberikan edukasi, mahasiswa juga melihat langsung kondisi penyimpanan obat di rumah warga. Dari hasil kunjungan, terlihat bahwa sebagian besar warga sudah memiliki kebiasaan yang cukup baik dalam menggunakan dan menyimpan obat. Mayoritas obat yang ditemukan merupakan obat yang diperoleh berdasarkan resep atau anjuran dokter, terutama obat untuk hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan gangguan lambung.
Kondisi tersebut didukung oleh adanya Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang dijalankan oleh Puskesmas Desa Cibodas. Melalui program tersebut, banyak lansia rutin memeriksakan kesehatannya, mendapatkan pemantauan kondisi penyakit kronis, serta memperoleh terapi yang sesuai. Hal ini membuat penggunaan obat pada sebagian besar warga menjadi lebih terkontrol dan dipantau oleh tenaga kesehatan maupun keluarga.
Namun, selama kegiatan berlangsung mahasiswa masih menemukan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Di beberapa rumah ditemukan obat yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa, obat tanpa keterangan yang jelas, serta sisa antibiotik yang masih disimpan untuk digunakan kembali di kemudian hari.
Temuan ini menunjukkan bahwa masih ada warga yang belum terbiasa memeriksa kondisi obat yang disimpan di rumah atau belum memahami bahwa antibiotik yang tersisa sebaiknya tidak digunakan kembali tanpa anjuran dokter.
Kebiasaan Penggunaan Obat yang Masih Perlu Diperbaiki
Selama kunjungan, mahasiswa juga menemukan bahwa beberapa warga memperoleh obat melalui pembelian langsung di apotek, terutama obat pereda nyeri, kortikosteroid, obat lambung, dan obat bebas lainnya. Meskipun obat tersebut dibeli dari tempat yang resmi, penggunaan obat tanpa konsultasi yang memadai tetap memiliki risiko, seperti penggunaan dosis yang tidak tepat, interaksi antarobat, atau penggunaan obat yang tidak sesuai dengan kondisi penyakit.
Mahasiswa juga menemukan adanya kebiasaan beberapa warga yang pernah merekomendasikan obat kepada orang lain tanpa pemeriksaan dokter. Meskipun dilakukan dengan niat membantu, kebiasaan ini berisiko karena kondisi kesehatan setiap orang berbeda sehingga obat yang cocok untuk satu orang belum tentu aman untuk orang lain.
Karena itu, mahasiswa menekankan pentingnya berkonsultasi dengan apoteker atau tenaga kesehatan sebelum menggunakan obat, terutama jika obat akan dikonsumsi dalam jangka waktu lama atau digunakan bersamaan dengan obat lain.
Pembagian Vitamin D3 untuk Lansia
Dalam kegiatan ini, mahasiswa juga membagikan vitamin D3 kepada warga lansia. Pembagian vitamin D3 dilakukan untuk membantu menjaga kesehatan lansia, terutama kesehatan tulang, kekuatan otot, dan daya tahan tubuh.
Lansia merupakan kelompok yang lebih berisiko mengalami kekurangan vitamin D karena faktor usia, berkurangnya aktivitas di luar rumah, dan berkurangnya paparan sinar matahari. Melalui pembagian vitamin D3, diharapkan para lansia dapat lebih memperhatikan kesehatannya dan menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat dan aktif.
Cerita yang Paling Berkesan
Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama kegiatan berlangsung adalah ketika mahasiswa mengunjungi seorang warga lanjut usia yang tidak lagi menyimpan maupun mengonsumsi obat karena keluarganya percaya bahwa keluhan yang dialami berkaitan dengan faktor spiritual atau mistis.
Menurut cerita keluarganya, warga tersebut sudah beberapa kali menjalani pemeriksaan kesehatan hingga ke rumah sakit dan melakukan medical check-up lengkap, tetapi tidak ditemukan penyebab penyakit yang jelas. Karena itu, keluarga lebih meyakini bahwa kondisi yang dialami berkaitan dengan hal-hal di luar penjelasan medis.
Pengalaman ini menjadi pelajaran penting bagi mahasiswa bahwa keputusan seseorang dalam mencari pengobatan tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi medis, tetapi juga oleh kepercayaan, budaya, dan keyakinan keluarga. Mahasiswa menyadari bahwa edukasi kesehatan tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga perlu dilakukan dengan pendekatan yang sopan, sabar, dan menghargai keyakinan masyarakat agar pesan kesehatan dapat diterima dengan lebih baik.
Antusiasme Warga Selama Kegiatan
Selama kegiatan berlangsung, warga menunjukkan antusiasme yang sangat baik. Banyak lansia yang aktif bertanya mengenai aturan minum obat, cara menyimpan obat setelah kemasan dibuka, lama penyimpanan obat sirup, salep, maupun obat tetes, serta cara mengetahui apakah obat masih layak digunakan atau tidak.
Suasana edukasi menjadi lebih hangat karena dilakukan langsung di rumah warga. Mahasiswa dapat memberikan penjelasan menggunakan bahasa yang sederhana, sementara warga merasa lebih nyaman untuk bercerita mengenai kebiasaan mereka dalam menggunakan obat.
Penutup
Pelaksanaan Gerakan Sadar Obat pada Selasa, 11 Agustus 2026 menunjukkan bahwa metode door to door merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, terutama kelompok lansia. Melalui kunjungan langsung, mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi mengenai penggunaan antibiotik dan penyimpanan obat, tetapi juga dapat mengidentifikasi berbagai kebiasaan masyarakat yang masih perlu diperbaiki.
Secara umum, hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengelolaan obat di RW 10 Desa Cibodas sudah tergolong cukup baik, terutama karena dukungan program kesehatan dari Puskesmas. Namun, edukasi mengenai pemeriksaan tanggal kedaluwarsa obat, penyimpanan obat setelah kemasan dibuka, penggunaan antibiotik yang benar, serta pentingnya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan masih perlu terus dilakukan.
Bagi mahasiswa KKN Dharma Pancakarsa, kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. Mereka belajar bahwa kesehatan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan obat dan penyakit, tetapi juga dengan cara berkomunikasi, memahami kebiasaan warga, dan membangun kepercayaan dengan masyarakat. Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata dan membuat masyarakat Desa Cibodas semakin bijak dalam menggunakan obat.