Desa Rancatungku: Potret Desa yang Tumbuh dengan Semangat Gotong Royong dan Pemberdayaan Masyarakat

Foto
Gamacipta (9)
31 July 2026  •  Dilihat 50 kali

Desa Rancatungku merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung. Saat ini, desa ini dipimpin oleh Kepala Desa, Bapak Ahmad Hendarsah. Meski tergolong desa yang terus berkembang, suasana khas pedesaannya masih sangat terasa. Mulai dari hamparan sawah, aktivitas warganya, hingga budaya gotong royong yang masih dijaga dengan baik menjadi ciri khas Desa Rancatungku.

Kalau melihat sejarahnya, Desa Rancatungku dulunya merupakan bagian dari Desa Bojongkunci. Karena wilayah Bojongkunci saat itu terlalu luas dan jumlah penduduknya semakin banyak, pelayanan kepada masyarakat menjadi kurang maksimal. Dari situlah muncul keinginan para sesepuh, tokoh masyarakat, pemuda, dan seluruh warga untuk membentuk desa baru. Setelah melalui berbagai musyawarah, akhirnya lahirlah Desa Rancatungku seperti yang kita kenal sekarang.

Nama Rancatungku sendiri punya cerita yang menarik. Kata 'Ranca' dalam bahasa Sunda berarti rawa, karena dulu wilayah ini banyak dipenuhi rawa-rawa. Sedangkan 'Tungku' adalah alat pembakaran dari batu yang digunakan untuk membakar genting dan batu bata. Nama ini dipilih karena pada zaman dahulu banyak warga yang bekerja sebagai pengrajin genting dan batu bata, sehingga tungku menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat saat itu.

Saat ini, Desa Rancatungku memiliki 12 RW dengan karakter yang berbeda-beda. Mayoritas masyarakatnya masih bekerja di sektor pertanian. Bahkan, sekitar 80 persen warga berprofesi sebagai petani. Tidak heran jika suasana pedesaan masih sangat terasa, karena setiap hari masyarakat masih akrab dengan sawah, kebun, dan hasil pertanian. Selain bertani, ada juga yang bekerja sebagai buruh, karyawan, pedagang, maupun membuka usaha kecil.

Setiap RW juga punya keunikannya masing-masing. Misalnya di RW 11, wilayah ini hanya memiliki dua RT dan sebagian besar warganya masih aktif bertani. Menariknya, masyarakat di sana sangat terbuka. Siapa pun yang ingin melihat atau belajar tentang aktivitas di sawah dipersilakan ikut turun langsung. Dahulu wilayah ini dikenal dengan nama Lembur Keyeup, lalu diubah menjadi Sukamandi karena dianggap lebih enak didengar dan memiliki makna yang lebih baik.

Sementara itu, RW 06 dikenal sebagai wilayah yang mayoritas warganya bekerja sebagai buruh atau karyawan. RW ini terdiri dari empat RT dengan jumlah kepala keluarga yang cukup banyak. Yang menarik, RW ini sudah memiliki sistem pengelolaan sampah yang dikelola langsung oleh masyarakat. Bukan hanya membuat lingkungan lebih bersih, program ini juga membuka kesempatan kerja bagi warga yang belum memiliki pekerjaan. Jadi, selain menjaga kebersihan lingkungan, kegiatan ini juga ikut membantu meningkatkan perekonomian masyarakat.

Dalam bidang pembangunan, pemerintah desa rutin mengadakan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Salah satunya adalah Rembuk Stunting, yang melibatkan pemerintah desa, bidan desa, kader PKK, dan Kader Pembangunan Manusia (KPM). Dari kegiatan ini diketahui bahwa persoalan sanitasi lingkungan masih menjadi perhatian utama. Selain itu, dampak pernikahan usia muda juga menjadi salah satu tantangan karena memicu berbagai permasalahan sosial, termasuk kasus kekerasan dalam rumah tangga. Di sisi lain, perangkat desa juga masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia sehingga beberapa pekerjaan administrasi masih ditangani oleh sedikit orang.

Kalau berbicara soal ekonomi, Desa Rancatungku juga punya banyak potensi. Salah satunya adalah Koperasi Idaman, koperasi syariah yang mulai dirintis sejak tahun 2020. Dari usaha yang awalnya sederhana, kini koperasi tersebut sudah berkembang dengan omzet sekitar Rp80 juta. Selain menjual kebutuhan pokok seperti beras dan air minum, koperasi ini juga bekerja sama dengan pengurus RW, RT, DKM, dan BMT dalam mengelola dana zakat untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

Selain koperasi, ada juga pelaku UMKM yang cukup berkembang, salah satunya usaha telur asin di RW 05. Yang menarik, telur itik yang digunakan berasal dari peternak lokal di wilayah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Rancatungku saling mendukung satu sama lain. Bahkan, sebagian besar pelaku usaha di desa ini lebih memilih menggunakan produk lokal, mulai dari beras, telur ayam, telur asin, hingga hasil pertanian. Cara seperti ini membuat perputaran ekonomi tetap berada di lingkungan masyarakat sendiri.

Kehidupan sosial di Desa Rancatungku juga terasa sangat hangat. Budaya gotong royong masih menjadi kebiasaan yang terus dijaga. Warga rutin mengadakan kerja bakti membersihkan lingkungan dan makam, mengecat gapura, memasang umbul-umbul menjelang Hari Kemerdekaan, hingga mengikuti pengajian rutin setiap minggunya. Semua kegiatan tersebut membuat hubungan antarwarga tetap terjalin dengan baik dan rasa kekeluargaan masih sangat kuat.

Dari berbagai potensi yang dimiliki, Desa Rancatungku menunjukkan bahwa sebuah desa bisa terus berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai kebersamaan. Dengan masyarakat yang kompak, semangat gotong royong yang masih terjaga, serta berbagai potensi di bidang pertanian, UMKM, dan pemberdayaan masyarakat, Desa Rancatungku memiliki peluang yang besar untuk menjadi desa yang semakin maju, mandiri, dan sejahtera.